Suara Buruh Nasional

Minggu, 28 Juli 2013

Konflik Gajah Liar di Pedalaman Ranto Perureulak Jadikan Masyarakat Sengsara

Aceh Timur, SBN---Terciptanya sebuah kesejahteraan tidak terlepas dari konsep-konsep pembangunan ekonomi yang baik, tolak ukur nya ialah pemerintah mampu menciptakan masyarakat yang terjamin secara financial, mapan secara sosial dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Masyarakat dikatakan sejahtera bila terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu rakyat, baik pangan, sandang, pendidikan, maupun kesehatannya, oleh karena itu kesejahteraan tidak hanya buah sistem ekonomi semata, melainkan juga buah sistem hukum, sistem politik, sistem budaya, dan sistem sosial.
Kata keperhatinan timbul dari pendritaan yang dirasakan masyarakat padalaman kabupaten Aceh Timur, pasalnya beberapa wilayah kecamatan dari bidang pertanian seperti tanaman sawit, karet, coklat, dll hancur di porak – porandakan gajah, salah satu kecamatan Ranto Peureulak wilayah yang paling parah di hantam gajah, akibatnya kondisi ekonomi masyarakat terpuruk.
Sejak Perdamaian Aceh hingga sekarang, ribuan hektar luas areal pertanian tidak bisa di manfaatkan, pasalnya gajah tersebut selalu menghampiri perkebunan hingga pemukiman warga, salah seorang Warga Desa Seumanah Jaya Zakaria (45) dengan kondisi fisik yang cacat (sebelah kaki kanan yang teramputasi) kepada SBN mengatakan,“kami berharap pemerintah dapat memberikan solusi serius dalam penanganan gajah-gajah liar ini, bukankah kami juga bagian dari masyarakat Aceh yang perlu diperhatikan kesejahteraanya, tapi buktinya hampir 10 tahun kami merasakan penderitaan berkepanjangan, tanaman sawit, coklat, karet dan setiap tanaman baru lainnya juga musnah dihancurkan gajah gajah liar tersebut.
Akibat tidak adanya keseriuasan pemerintah dalam penanggulangan gajah liar dan tidak mungkin masyarakat terpuruk dengan kondisi pahit seperti ini terus, oleh karena itu Zakaria berinisiatif mengikuti cara Perusahaan Perkebunan PT. Dwi Kencana Semesta dan  PT. Atakana yang seluruh areal kebun tersebut dikelilingi Pagar Power Pancing.
Zakaria dengan beberapa masyarakat yang terabung dalam Kelompok Pelestarian Alam berinisiatif membuat Pagar Power Pancing untuk bisa menghidupkan kembali ribuan hektar areal pertanian yang terlantar akibat gajah-gajah tersebut, namun dalam hal ini membutuhkan biaya yang sangat besar hingga 4.686.500.000 (empat miliar enam ratus delapan puluh enam juta lima ratus ribu rupiah) dengan rincian anggaran biaya pembuatan yang telah ditentukan, ini adalah alternatif yang dapat kami lakukan dengan cara memohon bantuan dana dari intansi-intansi pemerintah dan   para dermawan yang perihatin denga kondisi kami, jelasnya.
Sementara beberapa wartawan  saat mengkonfirmasi Ketua DPRK Kab. Aceh Timur, Tgk. Alaudin, di ruang kerjanya mengatakan,”laporan masyarakat tersebut telah kita tindak lanjuti ke Provinsi, di daerah kita tidak ada kapasitas untuk menanggulanginya, konflik gajar liar yang berkepanjangan tersebut di sebabkan oleh ulah manusia sendiri yang merusak habitatnya, dan berdasarkan sejarah endatunya gajah itu akan melintasi jalan-jalan yang pernah dia lewati, kita juga gak tahu harus bagaimana selain hanya bisa menindati lanjuti laporan tersebut ke provinsi, tegas Alaudin. >>hen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

comments