Suara Buruh Nasional

Rabu, 03 Juli 2013

Kutipan SKHUN di Tapteng Marak


Tapteng, SBN---Hampir seluruh sekolah yang ada di Kabupaten Tapanuli Tengah melakukan pengutipan penebusan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN). Hal ini bertolak belakang dengan pernyataan Bupati Tapteng yang memprogramkan pendidikan gratis di Kabupaten berjuluk Negeri Wisata Sejuta Pesona ini.

                Dari mulai tingkat SD sampai tingkat SMA sederajat melakukan pengutipan yang besarnya bervariasi dari mulai tujuh puluh ribu rupiah sampai ratusan ribu rupiah. Dari penuturan beberapa orangtua siswa ketika dikonfirmasi wartawan membenarkan hal tersebut dan bahkan mereka mengaku pihak sekolah tidak akan memberikan SKHUN anak didik apabila belum membayar.
                “Untuk menebus SKHUN kami bayar seratus ribu per siswa. Disetor kepada pihak sekolah saat mau mengambil SKHUNnya,” tutur Hutagalung salah seorang orangtua siswa salah satu SMP negeri di daerah kecamatan Sitahuis.            
“Kami ada membayar sebesar tujuh puluh ribu untuk mengambil SKHUN. Dan itu sudah kesepakatan, kalau belum bayar belum bisa menerima SKHUNnya” ungkap S yang juga salah seorang orangtua siswa ketika ditemui disalah satu SD di kecamatan Tukka baru-baru ini.
                Ketika hal ini dicoba dikonfirmasi terhadap salah seorang Kasek SD di daerah kecamatan Tukka, N, Br. Ht. Hyn, membenarkan adanya kutipan tersebut, namun dirinya menolak bila disebut “mengutip”. Pasalnya, pihak sekolah berdalih pengutipan tersebut merupakan kesepakatan orangtua siswa dengan komite tanpa adanya campur tangan dari pihak sekolah. “Itu kesepakatan bersama antara orangtua siswa dengan pihak komite, kami tidak ikut campur dalam hal itu,” kilahnya saat ditemui diruang kerjanya Rabu (19/6).
                Namun ketika ditanya, kalau memang atas kesepakatan orangtua dengan pihak komite tanpa campur tangan pihak sekolah, kenapa orangtua siswa menyetorkan uangn tersebut kepada pihak sekolah, bukan ke pihak komite atau salah seorang orangtua siswa yang dihunjuk dan kemana arah penggunaan dana tersebut?. Karena tidak sanggup menjawab, kasek dengan bergurau mengatakan bahwa uang hasil pengutipan tersebut telah dia habiskan untuk kepentingan pribadi. “Hu occop sude, mahua haroha? (terjemah dari bahas batak ke bahasa Indonesia, “Kumakan semua kenapa rupanya?”)” jawab kasek kepada wartawan.
                Fenomena ini diduga diakibatkan, ketidak pedulian pihak dinas pendidikan Tapteng dan menganggap hal tersebut "lumrah" dilakukan. Padahal, anggaran untuk segala keperluan dari mulai pelaksanaan UN berlangsung sampai penerimaan ijasah telah ditanggung oleh pemerintah, tanpa harus membebani orangtua siswa.
Delta Pasaribu selaku kepala dinas pendidikan Kabupaten Tapanuli Tengah ketika dikonfirmasi melalui telepon selularnya, tidak bersedia mengangkap hand phonenya. Dan ketika dikirimi pesan singkat juga tidak dibalas. >>STR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

comments